Asesmen Awal dan Pembelajaran Literasi Terdiferensiasi


Asesmen awal dan pembelajaran literasi terdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang dapat ditempuh oleh satuan pendidikan untuk turut serta dalam membenahi literasi melalui asesmen dan pembelajaran.


A. Asesmen untuk mengetahui kemampuan membaca siswa di kelas awal

Asesmen awal biasa digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik di dalam suatu kelas. Guru dapat menggunakan asesmen diagnosis, tujuannya agar pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi siswa.

Guru juga dapat memanfaatkan tes EGRA (Early Grade Reading Assessment) untuk mengetahui kemampuan membaca siswa. EGRA merupakan tes tertulis yang mengukur kemampuan membaca huruf, membaca suku kata, membaca kata, menyimak, dan kelancaran serta pemahaman membaca.

Dalam tes EGRA terdapat 5 tingkat kegiatan, yaitu:

  1. Membaca huruf
  2. Membaca suku kata
  3. Membaca kata
  4. Membaca dan memahami paragraf
  5. Memahami pertanyaan

Tahapan dalam asesmen menggunakan EGRA

  1. Guru menguji siswa secara individual.
  2. Guru mengajak siswa menyebutkan huruf atau membaca kata pada setiap tingkat kegiatan.
  3. Guru memerhatikan kesalahan saat tes. Jika siswa membuat 1-2 kesalahan pada tingkat huruf, tes bisa dilakukan ke tingkat suku kata. Jika siswa melakukan 3 atau lebih kesalahan pada tingkat huruf, tes dihentikan.
  4. Perhatikan kesalahan yang dilakukan siswa saat membaca sebuah cerita pendek (cerpen). Kegiatan ini bisa menjadi pedoman bagi guru untuk mengetahui tingkat kelancaran membaca siswa.

B. Pemetaan kemampuan siswa untuk merancang pembelajaran yang terdiferensiasi

Prinsip pembelajaran dan asesmen mengindikasikan pentingnya pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian pembelajaran peserta didik atau dikenal dengan istilah teaching at the right level atau pembelajaran yang terdiferensiasi. Tujuan dari pembelajaran terdiferensiasi adalah agar setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan.

Hal pertama yang perlu dilakukan guru adalah fokus ke tujuan dasar pelajaran. Sebagai contoh, capaian pembelajaran untuk elemen membaca dan memirsa pada Fase A adalah siswa mampu memahami informasi dan menambah kosakata baru.

Untuk mencapai tujuan ini, guru dapat memulai pelajaran dengan membacakan buku cerita bergambar terlebih dahulu. Sebelum membaca, guru bisa menunjukkan judul dan mengajak siswa menyebutkan huruf-huruf pada judul. Kegiatan ini bisa membantu siswa di dua kategori terakhir, yaitu siswa yang baru bisa mengeja dan siswa yang belum bisa membaca. Guru bisa membacakan cerita dengan jelas (read aloud) dan perlahan, sambil menunjuk kalimat yang dibacakan. Cara ini bisa membantu siswa melakukan dekoding atau melakukan hubungan antara bunyi huruf dengan simbol huruf yang mewakilinya.

Seusai membaca, guru dapat mengajak siswa untuk menyebutkan kata-kata yang baru mereka dengar dari bahan bacaan. Guru bisa menerangkan maksud kata tersebut. Untuk menambah pemahaman siswa pada kosakata baru, guru dapat mencontohkan sebuah kalimat yang mengandung kata tersebut dan mengajak siswa untuk membuat kalimat mereka sendiri.

Untuk meningkatkan pemahaman siswa pada bacaan, guru bisa mengadakan diskusi dan tanya jawab seputar bacaan. Dengan fokus pada capaian pembelajaran setiap fase, guru bisa merancang beraneka metode yang sesuai dengan keragaman dan keunikan siswa-siswanya.


Sumber:
Benahi Literasi Melalui Pembelajaran dan Asesmen
Kemendikbudristek 2023