Narasi Kasus:
Sebuah SMP di daerah pesisir Jawa Tengah menghadapi tantangan pembelajaran yang cukup kompleks pada materi IPA tentang banjir. Sekolah ini memiliki murid yang berasal dari lingkungan yang sering terdampak banjir, sehingga materi tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Namun, guru-guru menyadari bahwa pembelajaran selama ini cenderung bersifat teoritis dan kurang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata murid, sehingga minat dan pemahaman murid kurang optimal.
Selain itu, suasana belajar sering terasa monoton dan kurang memotivasi murid untuk aktif berpartisipasi. Murid juga kesulitan menghubungkan konsep ilmiah dengan kondisi lingkungan sekitar mereka. Guru-guru merasa perlu merancang pembelajaran yang lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan agar murid tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata dan merasa senang dalam proses belajar.
Menyadari hal tersebut, beberapa guru IPA, Bahasa Indonesia, dan guru pendamping lainnya berinisiatif melakukan inkuiri kolaboratif. Mereka mulai dengan mengidentifikasi kebutuhan murid dan konteks lingkungan melalui observasi dan diskusi bersama kepala sekolah serta wali kelas. Bersama-sama, mereka merancang pembelajaran terpadu yang mengajak murid melakukan penelitian sederhana tentang penyebab dan dampak banjir di lingkungan sekitar, serta merancang solusi pencegahan yang kreatif dan aplikatif.
1. Tahap Assess (Identifikasi)
| Kegiatan/ Aktivitas | Peran Guru/ Tim | Hasil/ Output |
| Mengumpulkan data awal pemahaman murid melalui pre-test dan observasi kelas. | Guru melakukan asesmen awal dan observasi. | Data kebutuhan dan kondisi murid terkait materi banjir. |
| Diskusi dengan wali kelas, kepala sekolah, dan orang tua untuk memahami konteks lingkungan. | Tim kolaboratif mengumpulkan masukan dari berbagai pihak. | Gambaran konteks lingkungan dan kebutuhan pembelajaran yang relevan. |
2. Tahap Design (Perencanaan)
| Kegiatan/ Aktivitas | Peran Guru/ Tim | Hasil/ Output |
| Merancang rencana pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. | Guru dan pemangku kepentingan menyusun rencana pembelajaran terpadu. | Rencana pembelajaran lengkap dengan tahapan dan alat evaluasi. |
| Menyiapkan instrumen observasi, lembar kerja, dan asesmen formatif. | Tim menyiapkan alat dan pembagian peran. | Instrumen pendukung pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. |
3. Tahap Implementation
| Kegiatan/ Aktivitas | Peran Guru/ Tim | Hasil/ Output |
| Melaksanakan pembelajaran dengan observasi lapangan dan pengumpulan data oleh murid secara berkelompok. | Guru pengajar memfasilitasi, guru lain melakukan peer observation. | Data lapangan dan hasil pengamatan proses pembelajaran. |
| Murid membuat produk kreatif (poster, presentasi) berdasarkan hasil inkuiri. | Guru memberikan scaffolding dan memfasilitasi diskusi reflektif. | Produk pembelajaran yang bermakna dan memotivasi murid. |
| Diskusi terbuka antar guru untuk evaluasi proses pembelajaran. | Tim melakukan refleksi bersama dan memberikan umpan balik. | Perbaikan dan penyesuaian strategi pembelajaran secara real-time. |
4. Tahap Measurement, Reflect, and Change
| Kegiatan/ Aktivitas | Peran Guru/ Tim | Hasil/ Output |
| Mengumpulkan data asesmen formatif dan produk murid. | Guru dan tim melakukan analisis data hasil belajar. | Pemahaman mendalam tentang keberhasilan dan tantangan pembelajaran. |
| Melakukan diskusi reflektif pada ruang diskusi dengan pertanyaan kunci. | Tim merefleksikan dan mengidentifikasi perbaikan. | Rencana tindak lanjut dan perbaikan untuk siklus pembelajaran berikutnya. |
| Mendokumentasikan hasil refleksi dan perubahan yang direncanakan. | Tim menyusun laporan reflektif dan rencana aksi. | Dokumentasi pengembangan profesional guru dan peningkatan mutu pembelajaran berkelanjutan. |