Siklus Inkuiri Kolaboratif Pada Pembelajaran Mendalam


Siklus inkuiri kolaboratif merupakan proses berkelanjutan yang terdiri dari 4 (empat) tahap utama yang saling berkesinambungan, yaitu Identifikasi (Assess), Perancangan (Design), Pelaksanaan (Implementation), dan Perubahan (Change)/ Pengukuran (Measure)/ Reflect (Refleksi). Siklus ini menjadi kerangka kerja bagi komunitas belajar di sekolah untuk secara bersama-sama mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang solusi, melaksanakan rencana, serta melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus.

Siklus Inkuiri Kolaboratif Pada Pembelajaran Mendalam
  1. Assess (Penilaian/ Identifikasi)
  2. Tahap pertama dalam siklus inkuiri kolaboratif adalah Identifikasi, yaitu proses memahami secara mendalam siapa murid yang ada di hadapan kita. Tahap ini menjadi fondasi utama bagi keseluruhan siklus pembelajaran dan perbaikan praktik, karena keputusan pedagogis yang bermakna harus berakar pada pemahaman utuh tentang murid.

    Dalam tahap ini, guru tidak bekerja sendiri, melainkan secara kolaboratif bersama tim sejawat untuk menggali informasi yang komprehensif mengenai murid, antara lain:

    • Minat, kekuatan, dan kebutuhan belajar murid.
    • Gaya belajar dan kecepatan berpikir masing-masing murid.
    • Bakat dan ketercapaian murid terhadap materi prasyarat.
    • Cara murid bekerja sama, menyikapi tantangan, menghadapi kegagalan, serta proses belajar secara keseluruhan.
    • Apa yang perlu dan ingin dipelajari murid, dengan mempertimbangkan kerangka pembelajaran, prinsip dan pengalaman belajar, serta delapan dimensi profil lulusan.

    Pengumpulan data ini dilakukan melalui berbagai sumber dan metode, seperti:

    • Asesmen awal untuk mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal murid.
    • Hasil asesmen dan evaluasi sebelumnya, seperti nilai ulangan, tugas, dan portofolio.
    • Observasi langsung proses pembelajaran di kelas, termasuk interaksi dan keterlibatan murid.
    • Feedback dari murid, orang tua, dan pemangku kepentingan lain.
    • Data lingkungan belajar dan sumber daya yang tersedia di sekolah.

    Beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam tahap ini adalah:

    • Data atau informasi apa yang sudah kita miliki tentang murid kita?
    • Apa kekuatan yang sudah dimiliki murid?
    • Apa tantangan atau kebutuhan murid yang perlu kita tanggapi?

    Dengan pemahaman yang mendalam dan data yang lengkap, guru bersama tim dapat menentukan fokus inkuiri yang relevan dan prioritas perbaikan pembelajaran yang tepat sasaran.

  3. Design (Perancangan)
  4. Setelah memahami secara mendalam siapa murid yang ada di hadapan kita pada tahap Assess, tahap berikutnya dalam siklus inkuiri kolaboratif adalah merancang pembelajaran yang bermakna, adaptif, dan menantang. Pada tahap ini, guru bersama tim kolaboratif mulai bertanya dan berdiskusi mengenai strategi dan pendekatan pembelajaran yang paling relevan untuk memenuhi kebutuhan dan potensi murid.

    Dalam merancang rencana pembelajaran, guru dan tim kolaboratif memperhatikan beberapa komponen penting, yaitu:

    • Prinsip Pembelajaran: Pembelajaran harus berkesadaran (sadar akan kebutuhan dan konteks murid), bermakna (menghubungkan materi dengan pengalaman nyata murid), dan membahagiakan (menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi).
    • Pengalaman Belajar: Rencana pembelajaran mencakup tahapan memahami konsep, mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata, serta merefleksikan proses dan hasil belajar.
    • Delapan Dimensi Profil Lulusan Murid: Merancang pembelajaran yang mendukung pengembangan aspek keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
    • Kerangka Pembelajaran: Memperhatikan praktik pedagogis yang efektif, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, membangun kemitraan pembelajaran dengan berbagai pihak, serta memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

    Guru dan tim juga menetapkan terlebih dahulu:

    • Learning Goals (Tujuan Pembelajaran): Apa yang ingin dicapai oleh murid sesuai dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan.
    • Success Criteria & Evidence of Learning: Bagaimana murid akan membuktikan pencapaian kompetensi tersebut melalui indikator keberhasilan yang jelas dan bukti nyata hasil belajar.

    Beberapa pertanyaan penting yang menjadi panduan dalam tahap perancangan ini antara lain:

    • Strategi dan pendekatan pembelajaran apa yang paling sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid?
    • Bagaimana pembelajaran dapat dirancang agar murid dapat menunjukkan kompetensi dan ketercapaian pembelajaran secara optimal?
    • Apa indikator keberhasilan belajar yang jelas dan terukur?
    • Apa peran dan tanggung jawab masing-masing guru dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut?

    Setelah menetapkan tujuan dan indikator keberhasilan, guru bersama tim merancang pembelajaran secara kreatif dan kontekstual, menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan murid serta sumber daya yang tersedia. Dengan perancangan yang matang dan kolaboratif, pembelajaran dapat berjalan efektif dan memberikan pengalaman belajar yang mendalam bagi murid.

  5. Implementation (Pelaksanaan)
  6. Tahap Implementation adalah fase di mana guru dan tim kolaboratif secara bersama-sama menerapkan rencana tindakan yang telah disusun dalam proses inkuiri untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan ini bukan hanya soal menjalankan rencana, tetapi juga melibatkan kerja sama, pemantauan, dan refleksi secara aktif antar anggota tim.

    1. Pelaksanaan Rencana Secara Kolaboratif
    2. Guru melaksanakan strategi pembelajaran yang telah dirancang secara bersama-sama, dengan memperhatikan kebutuhan dan karakteristik murid. Pelaksanaan dilakukan secara terbuka dan transparan, sehingga memungkinkan guru lain untuk melakukan observasi dan memberikan umpan balik.

    3. Monitoring dan Pengumpulan Data
    4. Selama pelaksanaan, guru bersama tim secara aktif memantau proses pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan reflektif, seperti:

      • Bagaimana proses pembelajaran berjalan di kelas?
      • Apa respons dan keterlibatan murid selama pembelajaran?
      • Bukti apa yang menunjukkan bahwa murid benar-benar belajar?
      • Penyesuaian apa yang perlu dilakukan agar pembelajaran lebih efektif?

      Data dikumpulkan melalui observasi langsung, catatan lapangan, rekaman diskusi murid, dan hasil asesmen formatif.

    5. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab
    6. Untuk memastikan pelaksanaan berjalan lancar, pembagian peran dalam tim sangat penting, misalnya:

      • Guru pengajar bertanggung jawab melaksanakan pembelajaran dan membuka kelas untuk observasi.
      • Guru pengamat melakukan observasi dan mencatat data sesuai instrumen yang telah disepakati.
      • Pengelola dokumentasi mengumpulkan dan mengorganisasi data serta hasil diskusi.
    7. Pengembangan Keterlibatan Murid
    8. Murid didorong untuk aktif dalam proses pembelajaran, termasuk mengembangkan kemampuan penilaian diri (self-assessment) dan penilaian sejawat (peer-assessment). Bahkan, murid dapat mulai memimpin pembelajaran mereka sendiri, mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas proses belajar mereka.

    9. Open Class sebagai Praktik Implementasi
    10. Open class menjadi salah satu metode efektif dalam implementasi inkuiri kolaboratif, di mana guru membuka kelasnya untuk diamati dan didiskusikan bersama. Kegiatan ini memperkuat budaya keterbukaan, kolaborasi, dan pembelajaran profesional yang berkelanjutan.

    Dengan pelaksanaan inkuiri kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan, guru dan tim dapat secara efektif meningkatkan praktik pembelajaran dan hasil belajar murid melalui kerja sama, refleksi, dan perbaikan berkesinambungan.

  7. Measurement, Reflect, and Change (Pengukuran Keberhasilan, Refleksi, dan Perubahan)
  8. Tahap terakhir dalam siklus inkuiri kolaboratif ini sangat penting untuk memastikan bahwa pembelajaran yang telah dilaksanakan benar-benar memberikan dampak positif bagi murid dan menjadi dasar bagi perbaikan berkelanjutan. Pada tahap ini, guru dan tim bersama-sama mengukur hasil pembelajaran, merefleksikan proses dan dampaknya, serta merencanakan perubahan yang diperlukan untuk siklus berikutnya.

    1. Mengukur Dampak Pembelajaran
    2. Langkah awal adalah mengumpulkan dan menganalisis data yang menunjukkan sejauh mana pembelajaran berdampak pada murid. Data ini dapat berupa produk belajar murid, hasil asesmen formatif, catatan observasi guru, maupun refleksi murid sendiri. Misalnya, membandingkan hasil pre-test dan post-test, atau melihat perkembangan kemampuan murid melalui jurnal reflektif mereka. Dengan data tersebut, tim dapat menilai apakah murid telah mencapai target pembelajaran dan apakah mereka sudah siap untuk melanjutkan ke level kompetensi berikutnya.

    3. Merefleksikan Proses dan Hasil
    4. Setelah mengukur hasil, guru dan tim melakukan refleksi bersama secara terbuka dan jujur. Diskusi reflektif ini bertujuan untuk menggali apa yang sudah berjalan dengan baik, tantangan yang dihadapi, serta aspek yang perlu diperbaiki. Pertanyaan-pertanyaan seperti: "Apa bukti nyata keberhasilan pembelajaran?", "Bagaimana respons murid terhadap strategi yang digunakan?", dan "Apa yang perlu diperkuat atau diubah?" menjadi panduan dalam diskusi ini.

      Contoh refleksi yang muncul bisa seperti "Dari jurnal murid, banyak yang sudah mampu menulis pendapat dengan runtut, tetapi kemampuan menyimpulkan masih perlu diasah."

    5. Melakukan Perubahan Berdasarkan Refleksi
    6. Hasil refleksi menjadi dasar untuk merancang perubahan yang lebih efektif. Tim mengidentifikasi strategi pembelajaran yang kurang berhasil dan merencanakan revisi dengan memilih pendekatan atau alat baru yang lebih sesuai. Perubahan ini kemudian dituangkan dalam rencana tindak lanjut untuk siklus inkuiri berikutnya, sehingga proses pembelajaran terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan murid.

    Tahap Measure, Reflect & Change merupakan inti dari siklus inkuiri kolaboratif yang memastikan proses pembelajaran tidak berhenti pada satu titik, melainkan terus berkembang secara berkelanjutan.

    Melalui pengukuran yang akurat, refleksi mendalam, dan dialog terbuka yang produktif dalam suasana aman, guru dan tim bersama-sama mengidentifikasi kekuatan serta area yang perlu diperbaiki, lalu merancang dan mengimplementasikan tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme secara konsisten.

    Perubahan ini kemudian diimplementasikan pada siklus inkuiri selanjutnya, sehingga proses pembelajaran terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan nyata di lapangan.