Survei Lingkungan Belajar di Asesmen Nasional


Survei Lingkungan Belajar di Asesmen Nasional

Sistem pendidikan bukanlah ajang pacuan kuda: siapa tercepat dialah yang terhebat. Evaluasi sistem pendidikan tidak sekadar membandingkan hasil belajar, namun memotret determinan yang memengaruhi hasil belajar secara positif. Hasil PISA 2018 menunjukkan hampir di seluruh negara peserta, siswa meraih skor membaca lebih tinggi ketika mereka menilai gurunya antusias saat mengajar dan menyukai topik yang diajarkannya: teaching with passion. Survei lingkungan belajar sebagai bagian dari Asesmen Nasional merupakan upaya untuk menggali faktor input dan proses pembelajaran yang mendorong hasil belajar yang optimal.

Survei lingkungan belajar sebagai instrumen dalam Asesmen Nasional akan mengukur kualitas pembelajaran dan iklim keamanan serta inklusivitas sekolah yang menunjang pembelajaran. Selain itu, survei lingkungan belajar juga menjadi refleksi bagi guru dan menjadi tolok ukur perbaikan praktik pengajaran serta mengetahui latar belakang keluarga siswa.

Informasi dari survei lingkungan belajar berguna untuk melakukan diagnosis masalah dan perencanaan perbaikan pembelajaran oleh guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan setempat. Dengan instrumen lainnya yakni asesmen kompetensi minimum (AKM) literasi numerasi dan survei karakter, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret komprehensif yang berguna bagi sekolah, madrasah, program kesetaraan jenjang dasar dan menengah, serta pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi diri dan perencanaan perbaikan mutu pendidikan.

Asesmen Nasional juga merupakan strategi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam rangka penguatan penjaminan mutu pendidikan khususnya mendorong penilaian formatif pendidikan untuk memonitor hasil pembelajaran dan menyediakan informasi diagnostik bagi guru, sekolah, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Asesmen Nasional akan diikuti oleh murid, guru, dan kepala satuan pendidikan. Para murid atau warga belajar akan mengerjakan AKM, survei karakter, dan survei lingkungan belajar, sedangkan para guru dan para kepala satuan pendidikan akan mengerjakan survei lingkungan belajar secara mandiri. Sebagai langkah awal, Asesmen Nasional akan dilaksanakan bagi siswa kelas 5, 8, dan 11 serta kelas 6, 9, dan 12 khusus untuk pendidikan kesetaraan.

Asesmen Nasional dipersiapkan secara matang mulai akhir 2019 oleh tim yang profesional. Konsultan penyusunan survei karakter dan survei lingkungan belajar berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gajah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Sanata Dharma, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, University of Melbourne, dan lainnya.

Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah dan daerah. “Sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua bahwa Asesmen Nasional untuk tahun 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri,” kata Mendikbud.

Anggota Badan Standar Nasional Pendididikan (BSNP) Periode 2019–2023, Doni Koesoema mengatakan, AN ini menjadi salah satu alternatif transformasi pendidikan di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan lingkungan belajar di satuan pendidikan. “Melalui asesmen yang lebih berfokus, diharapkan perbaikan kualitas, layanan pendidikan bisa semakin efektif,” tutur Doni.


Referensi : Majalah Jendela Kemendikbud