Strategi Penguatan Numerasi di Sekolah


Strategi Penguatan Numerasi di Sekolah

Literasi dan Numerasi merupakan kecakapan penting yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik di Indonesia. Setelah pada artikel lalu kita bahas tentang kebijakan pemerintah dalam menguatkan literasi - numerasi dan strategi penguatan literasi, sekarang lanjut dengan bagaimana strategi penguatan numerasi yang harus dijalankan di sekolah.

Penguatan kemampuan numerasi peserta didik di sekolah dapat dilakukan melalui strategi berikut:

  • Menyediakan sarana lingkungan fisik yang memberikan stimulus numerasi kepada peserta didik serta lingkungan berkarya (makerspace) yang memfasilitasi interaksi numerasi.
  • Membangun lingkungan sosial-afektif positif yang mendukung growth mindset bahwa numerasi merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh semua peserta didik dan merupakan tanggung jawab semua orang, bukan hanya peran dari guru matematika saja.
  • Mengimplementasi berbagai program sekolah yang komprehensif dan sesuai untuk berbagai kelompok peserta didik yang ditargetkan, misalnya program numerasi dini untuk peserta didik pendidikan usia dini.
  • Menekankan penalaran dan proses pemodelan pemecahan masalah di dalam mata pelajaran matematika dan menerapkan numerasi lintas kurikulum di mata pelajaran non matematika.

Dalam implementasi strategi penguatan kemampuan numerasi pada pembelajaran, guru dapat mengawalinya dengan Asesmen Diagnosis, yakni melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), kemudian dilanjutkan dengan Pembelajaran Remedial.


A. Strategi Implementasi pada Lingkungan Fisik dan Membangun Lingkungan Berkarya (Makerspace)

Berikut ini beberapa strategi implementasi penguatan kemampuan numerasi pada lingkungan fisik dan membangun lingkungan berkarya:

  1. Pengembangan sarana penunjang dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran numerasi sehingga tercipta ekosistem yang kaya numerasi.
  2. Tampilan informasi yang memunculkan numerasi dalam berbagai konteks. Misalnya, di kamar kecil dapat ditampilkan informasi mengenai berapa jumlah volume air yang diboroskan jika keran tidak tertutup penuh dan masih meneteskan air selama satu hari, atau informasi mengenai bagaimana memperkirakan waktu 20 detik untuk mencuci tangan dengan sabun sebagai protokol kesehatan.
  3. Tampilan informasi yang biasanya hanya dalam bentuk teks, dapat diperkaya dengan unsur numerasi. Misalnya, staf perpustakaan dapat menampilkan informasi mengenai jumlah peminjam buku (contoh: berdasarkan genre, gender, dan sebagainya) setiap bulannya dengan menggunakan diagram lingkaran, tabel, atau grafik.
  4. Pemanfaatan fasilitas di sekolah untuk tampilan-tampilan numerasi, misalnya, alat pengukuran tinggi badan, termometer suhu ruangan, dan nomor ruang kelas yang menarik.
  5. Tersedianya fasilitas atau tampilan-tampilan numerasi di taman sekolah yang mendorong peserta didik untuk bermain numerasi
  6. Ketersediaan lingkungan atau ruang berkarya untuk numerasi yang memberikan kesempatan peserta didik untuk berinteraksi melalui alat matematika dan permainan tradisional maupun permainan papan (board games) yang membutuhkan dan melatih keterampilan numerasi. Ruang ini dapat berada di salah satu bagian dari perpustakaan, ruang kelas khusus, atau bahkan ruang pada fasilitas umum atau sosial, misalnya di balai desa, sehingga memberikan akses bahkan untuk anak prasekolah dan anak pendidikan usia dini.

B. Strategi Implementasi pada Lingkungan Sosial-Afektif

Berikut ini beberapa strategi implementasi penguatan kemampuan numerasi pada lingkungan sosial-afektif:

  1. Pesan positif (growth mindset) bahwa semua peserta didik memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi numerat (yaitu seorang yang dapat menggunakan fakta, konsep, keterampilan, dan alat matematika untuk memecahkan masalah pada berbagai konteks).
  2. Guru dan orang tua mengomunikasikan growth mindset kepada peserta didik secara konsisten, baik secara lisan maupun melalui perlakuan kepada peserta didik. Adanya dialog antara guru dan orang tua untuk membicarakan berbagai strategi yang dapat digunakan, serta proses tindak lanjut yang dilakukan.
  3. Memunculkan tokoh masyarakat (figur publik) yang dikenal peserta didik, misalnya youtuber seperti Jerome Polin, untuk mengubah persepsi umum mengenai matematika dan numerasi.
  4. Mengangkat topik mengenai pekerjaan di masa yang akan datang dan peran penting matematika.
  5. Mengubah paradigma bahwa mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik merupakan tanggung jawab semua pihak (guru semua mata pelajaran, staf, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya).

C. Strategi Implementasi pada Lingkungan Akademis

Berikut ini beberapa strategi implementasi penguatan kemampuan numerasi pada lingkungan akademis:

  1. Penyediaan buku-buku yang berkaitan dengan numerasi, baik buku bacaan fiksi, nonfiksi, cara mengajarkan numerasi, maupun cara membuat alat peraga numerasi di perpustakaan sekolah.
  2. Program numerasi sekolah untuk mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, misalnya berupa seri topik mengenai matematika dalam kehidupan di rumah, matematika dalam berbagai pekerjaan yang ada saat ini, matematika dalam pekerjaan di masa depan, dan matematika di kehidupan bermasyarakat.
  3. Program numerasi peserta didik PAUD dan SD melalui permainan baik permainan tradisional, misalnya congklak. Atau permainan papan (board games), misalnya permainan ular tangga. Saat ini sudah ada berbagai permainan papan (board games) dan permainan kartu (card games) hasil karya putra-putri Indonesia yang memuat unsur numerasi.
  4. Program membuat permainan numerasi yang mengundang peserta didik dan orang tua untuk membuat dan memainkan permainan numerasi sederhana yang dapat dibawa pulang untuk dimainkan di rumah.

D. Strategi Implementasi pada Lingkungan Akademis

  1. Numerasi pada Mata Pelajaran Matematika
  2. Numerasi berperan menentukan cara dan arah pembelajaran matematika di sekolah, sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna bagi peserta didik secara kontekstual. Beberapa prinsip penguatan numerasi dalam mata pelajaran matematika mencakup:

    • memberikan perhatian pada konteks kehidupan nyata
    • penerapan pengetahuan matematika
    • penggunaan alat fisik, representasi dan digital
    • peningkatan sikap positif terhadap penggunaan matematika untuk memecahkan masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari
    • orientasi kritis untuk menginterpretasi hasil matematika dan membuat keputusan berbasiskan bukti

    Tuntutan numerasi dalam matematika melibatkan pengetahuan dan kapasitas untuk memanfaatkan keterkaitan ide-ide matematika (antara berbagai topik dan domain matematika). Untuk guru matematika, tantangannya adalah memberikan perhatian khusus pada bagaimana matematika digunakan di luar kelas matematika, misalnya memberikan masalah yang solusinya bergantung pada konteks dan meminta peserta didik untuk membenarkan solusi mereka dan pilihan keterampilan matematika yang mereka gunakan. Penguatan numerasi di matematika dapat dilakukan dengan melihat mata pelajaran lain sebagai penyedia konteks yang bermakna di mana konsep matematika dapat diperkenalkan atau dikembangkan.

  3. Numerasi Lintas Kurikulum (Mata Pelajaran Non Matematika)
  4. Agar numerasi berguna bagi peserta didik maka haruslah dipelajari dalam berbagai konteks dan melalui semua mata pelajaran sekolah, bukan hanya matematika. Pendekatan yang dibutuhkan adalah apa yang disebut sebagai numerasi lintas mata pelajaran, yaitu peran aktif dari guru mata pelajaran selain matematika untuk mengidentifikasi kesempatan numerasi di dalam mata pelajaran yang diajarnya dan untuk menstimulasi diskusi mengenai numerasi dalam kurikulum semua mata pelajaran. Ini tidak berarti bahwa guru non-matematika berubah fungsi menjadi pengajar matematika, melainkan mereka menanamkan (embed) numerasi dalam mata pelajaran yang mereka ajar tanpa kehilangan fokus pada mata pelajaran tersebut.

    Guru dapat menciptakan berbagai jenis kesempatan belajar numerasi melalui hal berikut:

    1. Mengidentifikasi tuntutan numerasi spesifik dari mata pelajaran mereka dengan menganalisis kurikulum mata pelajaran disiplin ilmu yang diajar.
    2. Memberikan pengalaman dan peluang belajar yang mendukung penerapan pengetahuan dan keterampilan matematika umum peserta didik.
    3. Menyadari penggunaan yang benar dari terminologi matematika di mata pelajaran mereka dan menggunakan bahasa ini dalam pengajaran mereka yang sesuai.

    Pada saat guru non-matematika turut memperhatikan numerasi dalam mata pelajaran lintas kurikulum sebenarnya dapat meningkatkan pembelajaran pada mata pelajaran tersebut. Sebagai contoh, seorang guru IPS ketika turut melatih siswa dalam membaca dan menginterpretasi data yang disajikan melalui grafik dengan baik akan membantu siswa juga dalam memahami pelajaran, misalnya mengenal ketidakmerataan distribusi kekayaan dan kekuasaan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, ketika guru memperkuat kemampuan numerasi siswa, secara timbal balik, kemampuan siswa untuk memahami disiplin ilmu tersebut juga meningkat.

    Berikut ini contoh numerasi lintas kurikulum untuk beberapa mata pelajaran non matematika:


    IPA:Mengestimasi pertumbuhan makhluk hidup menyatakan prediksi dengan membuat bagan
    IPS:Membuat grafik penggunaan air pribadi dan membandingkannya dengan ketersediaan air di berbagai daerah di Indonesia
    Bahasa:Membandingkan istilah-istilah matematika yang memiliki pengertian yang berbeda dari penggunaan sehari-hari
    Sejarah:Menggunakan diagram batang untuk membandingkan persediaan makan pada Perang Dunia II dengan konsumsi makanan peserta didik
    Seni:Memperkirakan ruangan yang dibutuhkan untuk menggambar dengan proporsi yang tepat
    PJOK:Memperkirakan berapa kalori yang dibakar untuk kegiatan fisik tertentu
    PPKn:Membandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi di berbagai era Presiden Indonesia

Sumber :
Panduan Penguatan Literasi & Numerasi di Sekolah
Ditjen PAUD, Dikdas, & Dikmen Kemendikbud 2021