Pengorganisasian Pembelajaran Sebagai Komponen KOSP

Komponen 3 KOSP


A. Pengertian Pengorganisasian Pembelajaran

Pengorganisasian pembelajaran adalah cara satuan pendidikan mengatur pembelajaran muatan kurikulum dalam satu rentang waktu. Pengorganisasian ini termasuk pula mengatur beban belajar dalam struktur kurikulum, muatan mata pelajaran dan area belajar, pengaturan waktu belajar, serta proses pembelajaran.

Penyusunan struktur kurikulum merupakan hal penting di dalam mengorganisasikan pembelajaran. Struktur kurikulum adalah pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran dan merupakan aplikasi dari konsep pengorganisasian konten dan beban belajar.

Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran dibagi menjadi 2 (dua) kegiatan utama, yaitu pembelajaran intrakurikuler dan projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk SMK atau magang untuk SMALB, termasuk ke dalam pembelajaran intrakurikuler, sedangkan projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler. Selain itu, satuan pendidikan dapat menyusun kegiatan ekstrakurikuler.

Pada satuan pendidikan nonformal program pendidikan Kesetaraan, pengorganisasian pembelajaran bersifat fleksibel dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, lingkungan belajar satuan pendidikan. Pengorganisasian pembelajaran memperhatikan pemetaan SKK yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Oleh karena itu, satuan pendidikan perlu mengorganisasikan pembelajaran ke dalam bentuk struktur kurikulum yang meliputi:

  1. Intrakurikuler
  2. Pembelajaran berisi muatan mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok), penetapan konsentrasi, dan Praktik Kerja Lapangan untuk SMK atau magang untuk SLB.

  3. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
  4. Kegiatan projek profil dirancang terpisah dari intrakurikuler untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila melalui tema dan pengelolaan projek berdasarkan dimensi dan fase.

  5. Ekstrakurikuler
  6. Kegiatan kurikuler yang dilakukan di luar jam belajar di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan.


B. Menganalisis Kebutuhan untuk Mengorganisasi Pembelajaran

Mengidentifikasi kebutuhan merupakan proses awal dalam menyusun pengorganisasian pembelajaran. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan sebelum menentukan struktur kurikulum dan program pembelajaran oleh satuan pendidikan, yaitu:

  1. Memprioritaskan kebutuhan peserta didik
  2. Menyesuaikan sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan
  3. Mempertimbangkan ketersediaan sarana dan prasarana satuan pendidikan
  4. Mempertimbangkan keterlibatan satuan pendidikan dengan kemitraan dan instansi terkait (untuk SMK dan SMALB)
  5. Mempertimbangkan keterlibatan satuan pendidikan dengan kemitraan dengan LPA (untuk SPK)

Dengan melakukan analisis kebutuhan untuk mengorganisasi dan merancang pembelajaran, satuan pendidikan memiliki arah yang lebih jelas dalam menyusun pengorganisian, serta perencanaan pembelajaran yang lebih aktual dan kontekstual.


C. Penjelasan Struktur Kurikulum di Satuan Pendidikan

1. Pembelajaran Intrakurikuler

  1. Tujuan
  2. Kegiatan pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran dirancang agar anak dapat mencapai kemampuan yang tertuang di dalam capaian pembelajaran. Berdasarkan Permendikbud No.50 Tahun 2020, PKL (SMK) atau magang (SMALB) bertujuan menumbuhkembangkan karakter dan budaya kerja yang profesional, meningkatkan kompetensi peserta didik sesuai kurikulum dan kebutuhan kerja, serta menyiapkan kemandirian peserta didik untuk bekerja dan/atau berwirausaha. Untuk SPK, Capaian Pembelajaran yang dimaksud adalah capaian pembelajaran untuk tiga (3) mata pelajaran wajib (Agama, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Pancasila) dengan mengikuti alokasi waktu struktur Kurikulum Merdeka.

  3. Metode
    • Menggunakan berbagai metode pengajaran/pendekatan belajar sebagai wujud "Merdeka Belajar, Merdeka Bermain".
    • Menggunakan berbagai instrumen asesmen yang bermakna dalam menilai progress dan capaian peserta didik.
    • Melibatkan pendidik dalam proses desain asesmen dan moderasi hasil asesmen.
    • Dalam konteks PAUD, satuan bebas memilih ragam pendekatan yang sesuai sepanjang mengusung pengalaman yang menyenangkan dan mampu mencapai tujuan pembelajaran. Dalam program intrakurikuler, tema tidak ditetapkan. Satuan PAUD bebas mengembangan tema yang kontektual sesuai dengan karakteristiknya.
    • Untuk PKL/magang, metode meliputi pemetaan kompetensi, penetapan lokasi, jangka waktu, pemetaan penempatan, pembimbing, serta pembekalan. Selain itu, PKL/magang dilaksanakan secara kolaboratif oleh satuan pendidikan dan mitra dunia kerja yang melibatkan pendidik sebagai pembimbing dan instruktur pada lokasi PKL.

  4. Hasil
    • Bukti pencapaian capaian pembelajaran berupa portofolio/ kumpulan hasil pekerjaan peserta didik dari berbagai instrumen asesmen.
    • Dilaporkan melalui rapor atau laporan kemajuan belajar untuk konteks PAUD.
    • Untuk PKL, bukti berupa umpan balik yang komprehensif meliputi perkembangan peserta didik dalam ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan dapat berupa lembar sertifikat.

2. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

  1. Tujuan
  2. Kegiatan yang dirancang terpisah dari intrakurikuler yang bertujuan untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak untuk PAUD). Tujuan pembelajaran projek tidak harus dikaitkan dengan tujuan materi pelajaran intrakurikuler. Pada PAUD, ini bertujuan untuk pengayaan wawasan dan penanaman pendidikan karakter peserta didik sejak dini.

  3. Metode
    • Mengasah kepekaan dan mengeksplorasi isu riil dan kontekstual dalam bentuk projek dengan bobot 20%-30% (SD-SMA/ SMK) dari kegiatan pembelajaran.
    • Memberikan ruang lebih banyak bagi peserta didik untuk bekerja mandiri dan fleksibel.
    • Dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan projek.
    • Bekerja secara kolaboratif dan terencana.
    • Khusus satuan PAUD kegiatan ini dilaksanakan minimal 2x setahun, serta dilaksanakan dalam konteks perayaan tradisi lokal, hari besar nasional, dan internasional dengan menggunakan empat (4) pilihan tema besar yang sudah ditetapkan.
    • Untuk SPK, alokasi waktu Projek penguatan profil pelajar Pancasila mengikuti struktur Kurikulum Merdeka dan diambil dari minimum tiga (3) mata pelajaran wajib.

  4. Hasil
    • Bukti dapat berupa hasil produk/ projek dan jurnal kerja yang fokus pada proses dan pencapaian tujuan projek.
    • Satuan pendidikan menyediakan waktu khusus untuk peserta didik menunjukkan hasil projek melalui pameran/ pertunjukan.
    • Dilaporkan melalui rapor atau laporan kemajuan belajar untuk konteks PAUD, pada bagian terpisah dengan intrakurikuler.

3. Pembelajaran Ekstrakurikuler

  1. Tujuan
  2. Kegiatan di luar jam belajar intrakurikuler di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.

  3. Metode
    • Terdiri atas ekstrakurikuler wajib dan pilihan. Kegiatan wajib berbentuk pendidikan pramuka dan kegiatan pilihan berupa kegiatan yang dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta didik.
    • Mengacu pada prinsip partisipasi aktif dan menyenangkan.
    • Melibatkan pendidik dan narasumber profesional dalam melatih keterampilan tertentu.
    • Untuk Satuan PAUD, program ekstrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

  4. Hasil
    • Bukti berupa testimoni atau cerita dari peserta didik.
    • Dilaporkan melalui rapor atau laporan kemajuan belajar untuk konteks PAUD, pada bagian terpisah dengan intrakurikuler.

D. Pendekatan Pembelajaran

Terdapat empat (4) pendekatan yang dapat digunakan oleh satuan pendidikan dalam mengorganisasikan muatan pembelajaran yang perlu disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing satuan pendidikan.

1. Pendekatan mata pelajaran

Setiap pembelajaran dilakukan terpisah antara satu mapel dan mapel lainnya. Tatap muka dilakukan secara reguler setiap minggu, dengan jumlah jam tatap muka sesuai dengan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan ketentuan minimal dari pemerintah.

Kelebihan

Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  • Beban yang harus dihadapi peserta didik setiap minggu harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga peserta didik tidak terbebani dengan banyaknya beban mata pelajaran.
  • Daya serap peserta didik terhadap mata pelajaran akan sangat berpengaruh jika macam mata pelajaran yang diberikan dalam satu waktu tertentu terlampau banyak. Ada kecenderungan konten suatu mapel belum terserap, sudah harus ganti mata pelajaran yang lainnya.
  • Perlunya koordinasi antar pendidik pengampu mata pelajaran. Pengaturan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak memberikan tugas dalam waktu yang bersamaan.

2. Pendekatan tematik

Pembelajaran disusun berdasarkan tema yang menaungi kompetensi-kompetensi dari berbagai mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik.

Kelebihan

  • Adanya tema sebagai payung besar yang menaungi kompetensi-kompetensi dari berbagai mata pelajaran.
  • Mengembangkan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik.
  • Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis.
  • Berpusat pada peserta didik, menghadirkan tema-tema yang relevan dan kontekstual, serta berkaitan dengan kehidupan riil peserta didik, memadukan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, dan menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  • Penentuan tema tidak harus diawali dari pemetaan kompetensi-kompetensi dari berbagai mata pelajaran.
  • Satuan pendidikan memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menentukan tema yang relevan dan kontekstual.
  • Satuan pendidikan memberikan fleksibilitas bagi pendidik untuk menyatukan konsep dari berbagai mata pelajaran atau dikaitkan dengan kehidupan peserta didik.
  • Satuan pendidikan memfasilitasi pendidik untuk berkolaborasi dalam merancang pembelajaran.

3. Pendekatan secara terintegrasi

Konsep-konsep dan keterampilan tertentu dari mata pelajaran diajarkan secara kolaboratif (team teaching). Pendidik berkolaborasi untuk merencanakan dan melaksanakan asesmen dan pembelajaran secara terpadu. Sebagai contoh mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara terintegrasi.

Kelebihan

  • Peserta didik belajar suatu konsep secara komprehensif dan kontekstual karena keterampilan, pengetahuan dan sikap diintegrasikan untuk mencapai suatu penguasaan kompetensi tertentu.
  • Para pendidik terkondisikan untuk berkolaborasi secara intensif karena perlu memilih kompetensi/ konten yang selaras dengan pemahaman yang dituju.
  • Lebih efisien, karena pendidik bisa memilah konsep yang perlu dieksplorasi secara lebih mendalam dan konten yang memerlukan waktu lebih sedikit.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  • Memberikan waktu yang cukup untuk merencanakan dan menyelaraskan di antara pendidik mata pelajaran yang mengajarkan tujuan pembelajaran yang berkaitan atau sama dengan unit atau konsep yang dipelajari.
  • Satuan pendidikan harus memberikan fleksibilitas bagi pendidik untuk mengelola penjadwalan mengikuti kebutuhan/ fokus pemahaman yang bisa berbeda setiap term/ semester/ tahun.

4. Pendekatan secara bergantian dalam blok waktu terpisah

Pembelajaran dikelola dalam bentuk blok-blok waktu dengan berbagai macam pengelompokkan. Sebagai contoh, mata pelajaran IPS, Bahasa Indonesia dan IPAS akan diajarkan dari jam 07.00- 12.00 dalam semester 1. Contoh lain, mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara bergantian dalam blok waktu yang terpisah.

Kelebihan

  • Memberikan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk mempelajari materi secara mendalam.
  • Waktu pembelajaran menjadi lebih banyak dan hal tersebut memungkinkan peserta didik belajar hingga tuntas.
  • Dengan blok waktu yang lebih panjang, pendidik memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan rencana pelajaran dan untuk memeriksa dan mengevaluasi pembelajaran.
  • Dengan blok waktu yang lebih lama memungkinkan untuk studi yang mendalam, seperti mengerjakan proyek/ penelitian individu/ kelompok, kolaborasi antar peserta didik dan pendidik.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  • Pengaturan jam mengajar pendidik harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga pendidik tetap memiliki beban kerja proporsional.
  • Ketersediaan sarana prasarana mengingat pendekatan blok membutuhkan pengaturan sarana dan prasarana yang ketat.
  • Perlu dirancang strategi tertentu agar materi yang diajarkan pada satu blok tertentu bisa tetap diingat.

Sumber:
Panduan Pengembangan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan
Kemendikbudristek 2022